Tanaman Berbentuk Batu

21 Januari 2009 at 10:32 AM Tinggalkan komentar

Batu Hidup

batu-hidup

Suku Indian Tarahumara di Meksiko percaya bila Ariocarpus fissuratus pelindung dari serangan musuh. Namun, hasrat Jumiati Aries Budiman mengoleksi tanaman endemik Negeri Sombrero itu bukan untuk menangkal kejahatan. Ia kepincut karena sosoknya unik.

Bagi Jumiati alias Mimi, Ariocarpus fissuratus punya beragam daya tarik. ‘Di Meksiko biasanya disebut batu hidup,’ katanya. Disebut demikian karena sosok memang tanaman menyerupai gumpalan batu. Daun berupa prisma segitiga dengan permukaan kasar. Susunnya rapi sehingga terlihat roset.

Di habitat aslinya, tanaman itu biasanya nyaris terpendam di dalam tanah yang mengandung kapur. Ia seringkali tertutup semak-semak sehingga sulit ditemukan. Keberadaannya baru diketahui bila tengah berbunga. Bunga kerabat kaktus itu berwarna merah muda atau magenta.
3 mm/tahun

Mimi mengemas tanaman batu itu dalam balutan pot plastik berdiameter 20 cm. Pemilik nurseri Watu Putih itu menggunakan media campuran pasir malang dan sekam. ‘Ariocarpus sebetulnya tanaman bandel karena hidup di lingkungan ekstrim. Yang penting medianya memiliki drainase baik,’ ujarnya.

Sunami-sebutan Ariocarpus fissuratus-tumbuh di daerah berkapur yang minim hara. Oleh sebab itulah Mimi tidak jor-joran memberi pupuk. ‘Cukup diberi pupuk slow release (lambat urai, red),’ tuturnya. Tanaman endemik Meksiko itu ditempatkan di rumah tanam yang diberi naungan plastik UV 45%.

Mimi juga mengoleksi Ariocarpus retusus. Berbeda dengan A. fissuratus, sosok tanaman itu menyerupai bola berduri. Permukaan daun halus dan berwarna abu-abu hingga kebiru-biruan. Tanaman ini biasanya lebih mudah ditemukan karena tumbuh di permukaan tanah. Warna bunga putih atau krem.

Merawat batu hidup sejatinya membutuhkan kesabaran. Maklum, pertumbuhannya sangat lamban. Ariocarpus fissuratus misalnya. Untuk mencapai diameter 15 cm perlu waktu 50 tahun. Artinya, pertumbuhannya hanya 3 mm/tahun. Beruntung Mimi membeli tanaman dewasa berdiameter sekitar 10 cm. Jadi ia tidak perlu menunggu 30 tahun untuk menyaksikan keunikan tanaman batu itu.
Biji

Ariocarpus retusus juga tak kalah lamban. Untuk mencapai ukuran tanaman setinggi 10 cm perlu waktu sekitar 5 tahun atau pertumbuhannya 2 cm/tahun. Lambannya pertumbuhan karena umumnya ariocarpus dibudidayakan dari biji. Perbanyakan dengan cara vegetatif mengundang risiko kematian tinggi.

Oleh sebab itu, meski ariocarpus hanya terdiri atas 6 species, varian masing-masing spesies sangat banyak akibat mutasi atau hasil persilangan alami di alam. Salah satunya Ariocarpus furfuraceus yang merupakan varian dari A. retusus yang juga dikoleksi Mimi. Dari susunan daun keduanya mirip. Yang membedakan bentuk daun retusus berbentuk prisma segitiga, tetapi agak menggelembung sehingga tidak membentuk sudut yang tegas.

Kesamaan dari setiap jenis ariocarpus adalah kehadiran serat-serat halus seperti kapas yang tumbuh dari pangkal dan menyelimuti permukaan daun. Serat itu memiliki fungsi sama dengan duri pada jenis-jenis kaktus lainnya, yakni untuk mengurangi penguapan air. Itulah sebabnya ariocarpus bertahan hidup di habitat yang memiliki intensitas cahaya matahari tinggi.
Lithops

Nun di Bandung, Erminus Temmy juga mengoleksi tanaman batu. Namun, itu berasal dari benua hitam Afrika. Itulah lithops. Dalam bahasa Yunani kuno, lithops berasal dari dua kata: lithos yang berarti batu dan opsis yang artinya wajah. Wajah batu memang pantas disematkan untuk tanaman sukulen itu karena sosoknya benar-benar menyerupai batu.

Lithops biasanya tumbuh berupa dua daun berbentuk gelembung yang saling berhadapan. Kedua daun itu mengapit jaringan meristem. Dari sanalah muncul bunga dan daun baru yang tumbuh selalu berpasangan. Pada jaringan daun yang transparan mengandung kristal kalsium oksalat. Senyawa itulah yang menyerap sinar matahari untuk berfotosintesis meski intensitasnya rendah.

Di habitat aslinya di alam, ia tumbuh hampir terkubur di dalam tanah berpasir dan berkerikil. Hanya permukan daun bagian atas yang terlihat. Permukaan daun itulah yang biasanya memiliki tekstur, warna, dan corak yang beragam. Keberadaannya di alam terkadang samar karena corak daun menyerupai batu kerikil yang berada di sekitarnya.

Keunikan itulah yang membuat Temmy kepincut mengoleksi puluhan jenis lithops. Bila rekannya tengah berkunjung ke Amerika Serikat atau Afrika Selatan, ia tak lupa memesan si wajah batu. Anggota famili Aizoaceae yang rata-rata hanya seukuran jempol orang dewasa itu ditanam dalam pot berdiameter 5 cm. Ia menggunakan campuran pasir malang dan sekam mentah sebagai media. Seluruh koleksinya yang tampak prima itu disimpan dalam rumah tanam yang diberi naungan plastik UV. –> artikel dari Trubus

Entry filed under: Plantae. Tags: .

NJ Star Japanese Word Processor Kejadian Kocak Dunia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Subscribe to the comments via RSS Feed


Hallo Minnasan !!!

" Douzo Yoroshiku Onenggai Shimasu "

Waduh Baru Asyik ngeblog Di Blogspot nih... Jadi ini blog Agak tersingkirkan.

Sory berat deh...

Tanggal

Januari 2009
M S S R K J S
    Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Calon Sukses

  • 3,024 Orang

Corat-Coret

Hansip Opss Arsip

Engine Search

Add to Technorati Favorites

%d blogger menyukai ini: